Setiap hari posting. Kadang pagi, kadang malam. Kadang semangat, kadang terpaksa.
Produknya bagus. Foto produknya bagus. Testimoni ada.
Tapi yang masuk cuma like.
Bukan order.
Ia pernah mengeluh, “Kayaknya orang-orang sekarang pelit ya.”
Saya tidak langsung jawab.
Karena biasanya bukan orangnya yang pelit.
Biasanya kontennya yang tidak menyentuh.
Kita sering menulis konten seperti katalog: menjelaskan manfaat, bahan, fitur, bonus, harga. Seolah orang itu robot yang hanya butuh data.
Padahal manusia tidak bergerak karena data.
Manusia bergerak karena rasa.
Rasa takut. Rasa lega. Rasa ingin. Rasa menyesal. Rasa “ini gue banget”.
Di titik itu saya baru sadar: AI itu sebenarnya bukan sekadar alat menulis cepat.
Kalau kita pakai dengan benar, AI bisa jadi “mesin psikologi”.
Bukan untuk memanipulasi.
Tapi untuk membantu kita menyusun kalimat yang lebih manusiawi.
Saya menemukan ada tiga jenis konten yang paling sering membuat orang berhenti scroll. Dan lucunya, tiga jenis konten ini bisa ditulis dengan AI—asal prompt-nya tepat.
Bukan prompt yang kaku.
Tapi prompt yang membuat AI berpikir seperti manusia.
1. Konten yang Membuat Orang Melihat Hidupnya 3 Bulan Lagi
Ini yang paling halus.
Anda tidak memaksa orang membeli.
Anda hanya mengajak mereka melihat masa depan yang sangat mungkin terjadi.
Karena manusia itu aneh: mereka bisa mengabaikan masalah hari ini, tapi mereka takut pada masalah yang “sebentar lagi jadi nyata”.
Misalnya begini:
Hari ini mereka masih bisa bercanda soal gula darah.
Tapi ketika dokter bilang, “angka Anda naik lagi,” tiba-tiba dunia terasa sunyi.
Di sinilah konten bekerja.
Konten yang bagus membuat orang merasa:
“Kayaknya ini bisa terjadi sama saya.”
Dan begitu mereka merasa begitu, mereka tidak lagi melihat produk sebagai barang.
Mereka melihatnya sebagai pintu keluar.
Kalau Anda mau AI menulis konten seperti ini, gunakan prompt berikut:
PROMPT AI #1 — Teknik “Memori Masa Depan” (versi upgrade)
Bertindak sebagai cognitive neuroscientist + storyteller + elite copywriter.
Saya ingin kamu menulis konten yang membuat audiens membayangkan hidupnya 3–6 bulan dari sekarang secara realistis.Produk: (isi produk)
Target market: (isi target market)Buat narasi 180–220 kata dengan alur seperti cerita pendek:
- Mulai dengan hook: “Bayangkan 3 bulan dari sekarang…”
- Gambarkan situasi harian yang sangat spesifik (jam, tempat, rutinitas).
- Buat 2 versi masa depan:
- jika mereka tidak berubah
- jika mereka mulai memakai produk ini sebagai bagian dari rutinitas
- Gunakan detail kecil yang terasa nyata (notifikasi WA, rasa capek, tidur gelisah, celana sempit, hasil lab, komentar pasangan).
- Tutup dengan CTA halus: ajak mereka memilih masa depan, bukan membeli produk.
Aturan: tidak lebay, tidak overclaim, tidak motivasi kosong, bahasa harus natural seperti ngobrol.
2. Konten yang Membongkar Musuh dalam Diri Pembeli
Ada jenis orang yang sebenarnya sudah tahu harus apa.
Mereka tahu gula harus dikurangi. Mereka tahu olahraga itu penting. Mereka tahu tidur itu perlu.
Masalahnya bukan pengetahuan.
Masalahnya satu: kebiasaan kecil yang selalu menang.
Menunda.
Overthinking.
“Besok aja.”
Dan kebiasaan kecil itu, kalau dibiarkan, akan jadi bencana besar.
Konten jenis ini tidak bicara “produk saya bagus”.
Konten jenis ini bicara:
“Yang bikin kamu stuck itu bukan dunia. Tapi pola yang kamu ulang tiap hari.”
Kalau AI diminta menulis konten seperti ini, prompt-nya harus memaksa AI untuk menulis seperti psikolog yang sedang membuka topeng kebiasaan seseorang.
Ini promptnya:
PROMPT AI #2 — Teknik “Musuh Internal”
Bertindak sebagai behavioral analyst + psychologist + direct-response copywriter.
Tulis konten yang membongkar satu musuh internal audiens yang membuat mereka gagal berubah.Produk: (isi produk)
Target market: (isi target market)Ikuti struktur ini:
- Hook yang nyentil kebiasaan sehari-hari (kalimat pendek, tajam).
- Cermin: gambarkan perilaku mereka secara spesifik sampai terasa “ini gue banget”.
- Kesadaran: jelaskan dampak jangka panjang kalau kebiasaan ini diteruskan (realistis, tidak menghakimi).
- Reframe: jelaskan bahwa masalahnya bukan kurang niat, tapi tidak punya sistem.
- Solusi: posisikan produk sebagai alat untuk membangun sistem itu.
- CTA: ajak berubah, bukan ajak beli.
Aturan: jangan menggurui, jangan klise, jangan overclaim. Maksimal 150–200 kata.
3. Konten yang Berani Menolak Pembeli yang Salah
Ini yang paling menarik.
Kebanyakan orang ingin semua orang membeli produknya.
Padahal itu kesalahan besar.
Karena ketika Anda mengejar semua orang, Anda akan dapat pembeli yang paling merepotkan.
Pembeli yang ingin hasil cepat. Pembeli yang tidak mau disiplin. Pembeli yang nanti komplain karena “kok tidak instan”.
Sebaliknya, brand yang kuat justru sering berkata:
“Produk ini bukan untuk semua orang.”
Aneh ya.
Tapi justru itu yang membuat orang percaya.
Karena terdengar jujur.
Dan orang lebih percaya pada brand yang berani menolak, dibanding brand yang terlalu memohon.
Untuk membuat AI menulis konten seperti ini, gunakan prompt berikut:
PROMPT AI #3 — Teknik “Seleksi Pembeli”
Bertindak sebagai market strategist + behavioral psychologist + direct-response copywriter kelas dunia.
Buat konten marketing yang berani menyaring audiens: menolak pembeli yang salah untuk menarik pembeli yang tepat.Produk: (isi produk)
Target market: (isi target market)Struktur konten:
- Hook anti-mainstream yang memancing rasa “gue termasuk nggak?”
- Jelaskan kenapa kebanyakan orang gagal (tanpa menghakimi).
- Sebutkan 3 tipe orang yang tidak cocok memakai produk ini (harus spesifik).
- Tolak mereka secara halus tapi tegas.
- Sebutkan 1 tipe orang yang paling cocok memakai produk ini.
- Tutup dengan CTA reflektif: bukan ajak beli, tapi ajak mereka mengidentifikasi diri.
Aturan: bahasa manusia, tidak overclaim, tidak lebay. Output maksimal 150–200 kata.
Yang Menarik: Ini Bukan Teknik Menulis. Ini Teknik Membaca Pikiran.
Kalau Anda perhatikan, tiga prompt tadi tidak dimulai dari “produk saya apa”.
Tapi dimulai dari pertanyaan yang lebih dalam:
- apa ketakutan mereka?
- kebiasaan buruk apa yang mereka sembunyikan?
- masa depan seperti apa yang diam-diam mereka takutkan?
Itulah bedanya konten yang sekadar “informatif” dengan konten yang benar-benar menjual.
Konten yang menjual bukan yang paling pintar.
Tapi yang paling terasa dekat.
AI bisa membantu.
Tapi AI hanya sekuat instruksi yang kita berikan.
Kalau prompt Anda dangkal, hasilnya juga dangkal.
Kalau prompt Anda manusiawi, hasilnya bisa seperti tulisan orang yang paham hidup.
Dan di era sekarang, mungkin itu saja yang dibutuhkan.
Bukan konten yang ramai.
Tapi konten yang terasa nyata.

Posting Komentar