Beberapa waktu lalu saya bertemu seorang teman lama.

Usianya belum 50 tahun.

Badannya juga tidak terlalu gemuk.

Obrolan kami mengalir ke mana-mana, sampai akhirnya ia berkata pelan.

"Sekarang saya diabetes."

Saya agak terkejut.

Setahu saya, ia bukan penggemar minuman manis.

Ia bahkan sering bercanda kalau kopi itu harus pahit.

Teh pun tanpa gula.

Saya lalu bertanya, "Lho, kok bisa?"

Ia mengangkat bahu.

"Itu juga yang saya tidak mengerti."

Kalimat itu terus terngiang di kepala saya.

Karena saya sering mendengar cerita yang hampir sama.

Banyak orang merasa sudah menghindari gula.

Tetapi hasil pemeriksaan laboratorium berkata lain.

Di situlah saya mulai menyadari bahwa persoalannya mungkin memang bukan sesederhana gula.

Yang sering luput justru adalah kebiasaan-kebiasaan kecil yang dianggap sepele.

Padahal, kalau dilakukan setiap hari selama bertahun-tahun, dampaknya bisa sangat besar.

Kesalahan pertama adalah terlalu sering makan.

Bukan soal porsinya.

Tetapi tubuh hampir tidak pernah diberi waktu beristirahat.

Pagi sarapan.

Dua jam kemudian camilan.

Siang makan.

Sore kopi dengan biskuit.

Malam makan lagi.

Sebelum tidur masih ada buah atau makanan ringan.

Sekilas tidak ada yang salah.

Tetapi setiap kali makan, tubuh kembali melepaskan insulin untuk mengatur kadar gula darah.

Kalau itu berlangsung terus-menerus selama bertahun-tahun, sel-sel tubuh dapat menjadi semakin kurang peka terhadap insulin.

Dalam dunia medis, kondisi ini dikenal sebagai resistensi insulin.

Dan resistensi insulin merupakan salah satu faktor utama yang mendasari diabetes tipe 2.

Kesalahan berikutnya adalah menganggap semua makanan yang terdengar alami pasti aman.

Jus buah.

Madu.

Kurma.

Brown sugar.

Gula aren.

Semuanya sering diberi label lebih sehat.

Padahal tubuh tidak membaca label itu.

Tubuh hanya mengenali zat gizi yang masuk.

Bila jumlah karbohidrat dan gula yang dikonsumsi tetap tinggi, respons gula darah juga tetap dapat meningkat.

Nama makanannya boleh berbeda.

Respons tubuhnya belum tentu berbeda.

Lalu ada serat.

Inilah yang sering paling diremehkan.

Banyak orang berkata sudah makan sayur.

Tetapi jumlahnya hanya pelengkap.

Padahal serat memiliki pekerjaan yang sangat penting.

Ia membantu memperlambat penyerapan karbohidrat.

Membantu rasa kenyang bertahan lebih lama.

Dan membantu mengurangi lonjakan gula darah setelah makan.

Semakin sedikit serat yang kita konsumsi, semakin cepat makanan dicerna.

Semakin cepat pula glukosa masuk ke dalam darah.

Hal kecil lain yang sering tidak disadari adalah urutan makan.

Kita biasanya langsung menyerang nasi karena sudah sangat lapar.

Padahal berbagai penelitian menunjukkan bahwa memulai makan dengan sayuran dan protein terlebih dahulu dapat membantu memperbaiki respons gula darah setelah makan.

Kelihatannya sederhana.

Tetapi tubuh bekerja berdasarkan proses-proses kecil seperti itu.

Masih ada lagi yang sering tidak dikaitkan dengan diabetes.

Kurang tidur.

Stres berkepanjangan.

Jarang bergerak.

Semuanya memengaruhi hormon dan metabolisme.

Tubuh bekerja sebagai satu sistem.

Bukan kumpulan organ yang berdiri sendiri.

Yang membuat saya prihatin, diabetes hampir selalu datang diam-diam.

Tidak menimbulkan rasa sakit.

Tidak membuat kita panik.

Prosesnya berlangsung perlahan.

Bisa lima tahun.

Sepuluh tahun.

Bahkan lebih.

Ketika gula darah akhirnya melewati batas normal, kerusakan metabolik sering kali sudah berlangsung cukup lama.

Karena itu saya semakin percaya bahwa menjaga kesehatan metabolik bukan dimulai ketika seseorang didiagnosis diabetes.

Tetapi jauh sebelum itu.

Dimulai dari keputusan-keputusan kecil yang kita ambil setiap hari.

Memilih makanan yang lebih utuh.

Memperbanyak serat.

Tidak terus-menerus ngemil.

Tidur lebih cukup.

Lebih banyak bergerak.

Hal-hal sederhana yang sering dianggap tidak penting.

Semakin lama saya belajar, riset, diskusi dengan banyak pakar, dokter dan praktisi mengenai metabolisme, semakin saya memahami bahwa tubuh manusia jauh lebih cerdas daripada yang kita bayangkan.

Tubuh selalu berusaha menjaga keseimbangan.

Masalahnya, kita sering memaksanya bekerja tanpa henti.

Dari pemahaman itulah bersama dengan tim Herbmeal, kami mengembangkan pendekatan Nutrisi Metabolik, yang menjadi fondasi pemikiran di balik Herbmeal.

Bagi saya, tujuan utamanya bukan menjual gagasan bahwa ada makanan ajaib yang bisa menyelesaikan semua masalah.

Justru sebaliknya.

Kami percaya tidak ada satu produk pun yang dapat menggantikan pola makan yang baik, tidur yang cukup, aktivitas fisik, dan kebiasaan hidup sehat.

Kalau pun ada sebuah produk, perannya hanyalah membantu orang lebih mudah menjalankan kebiasaan yang benar.

Pada akhirnya, saya teringat lagi kepada teman lama itu.

Ia memang tidak suka minuman manis.

Tetapi ternyata kesehatan metabolik memang tidak ditentukan hanya oleh satu kebiasaan.

Ia adalah hasil dari ribuan keputusan kecil yang kita ambil setiap hari.

Dan mungkin, justru keputusan-keputusan kecil itulah yang suatu hari nanti menentukan apakah kita tetap sehat atau harus mulai hidup berdampingan dengan diabetes.

Baca Juga : Momen yang membuat saya sadar pentingnya menjaga keseimbangan metabolisme.

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama